Logo Krocok
PEMDES KROCOK
Kec. Japah Kab. Blora
Beranda Profil Desa Pemerintah Desa Berita & Kabar Peta Interaktif Produk Hukum Informasi Publik Lapak Desa Pengaduan Warga Pembangunan IDM & APBDes Kontak
Pemerintahan Rabu, 12 Agustus 2026 Dibaca 1 kali

Menko Zulhas Minta SPPG Serap Bahan Pangan dari Desa untuk Program MBG

Penulis: Administrator Desa
Menko Zulhas Minta SPPG Serap Bahan Pangan dari Desa untuk Program MBG

BLORA – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengutamakan bahan pangan dari desa.

Menurut Zulhas, kebijakan tersebut penting agar program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa.

Hal itu disampaikan Zulhas saat meninjau Budidaya Ikan Tematik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kamolan di Sendang Bangeran, Desa Kamolan, Kecamatan Blora, Jumat (31/7/2026).

"SPPG harus membeli dari Koperasi Desa Merah Putih, koperasi nelayan, BUMDes, atau usaha yang ada di desa. Tidak boleh semuanya dibeli dari distributor besar," kata Zulhas.

Dia mencontohkan, jika desa memiliki produksi lele, telur, ayam, sayuran, buah, atau beras, komoditas tersebut harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan SPPG.

"Kalau di desa ada ikan lele, ambil lele dari desa. Kalau ada telur, ayam, sayuran, buah-buahan, dan beras, ambil dari desa. Kita ingin ekonomi rakyat tumbuh," ujarnya.

Zulhas bahkan menegaskan akan ada evaluasi bagi SPPG yang tidak menjalankan kebijakan tersebut.

"Kalau tidak mengambil dari desa, kita ingatkan. Dua kali, tiga kali. Empat kali, tutup SPPG-nya," tegasnya.

Dorong Ekonomi Desa

Zulhas mengatakan MBG merupakan bagian dari upaya pemerintah menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di desa. Menurutnya, pembangunan nasional tidak boleh hanya bertumpu pada kota besar.

"Indonesia tidak mungkin maju kalau yang maju hanya Jakarta. Harus ada pusat pertumbuhan ekonomi di desa-desa," katanya.

Konsep tersebut terlihat di Desa Kamolan. Sebanyak 24 kolam bioflok dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele melalui program Budidaya Ikan Tematik Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dalam kunjungan tersebut dilakukan tebar benih dan panen lele. Hasil panen kemudian dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan empat SPPG dengan harga Rp25 ribu per kilogram dalam kondisi bersih. Setiap pesanan berkisar 150-300 kilogram.

Zulhas menyebut pola tersebut sebagai close loop economy, yakni produksi desa langsung terhubung dengan pasar melalui kebutuhan MBG.

"Lele dari desa masuk ke SPPG. Nanti telur, ayam, sayuran dan beras juga dari desa. Uangnya berputar di desa," jelasnya.

Dia menilai kebutuhan bahan pangan untuk MBG akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah SPPG. Karena itu, kapasitas produksi desa perlu diperkuat agar mampu menjadi pemasok kebutuhan program.

Jaringan Koperasi Desa Merah Putih yang tersebar di sekitar 80 ribu desa juga diharapkan saling terhubung. Desa yang memiliki surplus produksi dapat memasok wilayah lain yang membutuhkan.

Bupati Blora Arief Rohman menyambut baik kebijakan tersebut. Menurutnya, Kamolan menjadi contoh keterhubungan antara ketahanan pangan desa dengan kebutuhan MBG.

"Kamolan menjadi contoh bagaimana program ketahanan pangan bisa langsung terkoneksi dengan kebutuhan Makan Bergizi Gratis. Yang tumbuh bukan hanya produksi ikan, tetapi juga ekonomi masyarakat desa," ujar Arief.

Selain Kamolan, bantuan bioflok juga disalurkan kepada Koperasi Kelurahan Merah Putih Kunden, Koperasi Desa Merah Putih Kentong dan Koperasi Desa Merah Putih Sambongrejo. Masing-masing lokasi mendapat 24 kolam, sehingga total terdapat 96 kolam bioflok di Kabupaten Blora.

Kebijakan tersebut diharapkan membuat MBG tidak sekadar menjadi program pemenuhan gizi, tetapi sekaligus membuka pasar bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha desa.