BLORA – Sekitar 4.000 petani hutan di Kabupaten Blora bakal mendapat manfaat program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Pupuk Indonesia. Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan agroforestri dan usaha produktif masyarakat di kawasan perhutanan sosial.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Blora Lanova Candra saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kelompok Tani Hutan (KTH) Masjid Baitur Mulyo di Kecamatan Sambong, Selasa (4/8/2026).
Menurut Lanova, program CSR tersebut mencakup lahan sekitar 2.000 hektare yang telah melalui verifikasi teknis di 11 desa dan melibatkan tiga KTH.
“Program ini direncanakan mulai kick off pada September mendatang dengan nilai bantuan yang cukup besar. Targetnya sekitar 4.000 petani akan menerima manfaat,” ujar Lanova.
Dia berharap bantuan tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan agroforestri sekaligus memperbaiki fungsi kawasan hutan.
Sementara itu, Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini mengatakan pemerintah juga akan berupaya membuka dukungan CSR untuk membantu petani hutan mengembangkan usaha selain tanaman jagung.
Sri mendorong petani mulai mengembangkan peternakan ayam petelur dan budidaya ikan lele sebagai sumber tambahan pendapatan keluarga.
“Saya akan berupaya mencarikan dukungan melalui program CSR untuk bantuan bibit lele, ayam, maupun kebutuhan lainnya,” katanya.
Dia berharap setiap rumah tangga petani nantinya dapat memelihara sekitar 50 ekor ayam petelur sehingga bisa menghasilkan pendapatan tambahan.
Menurut Sri, potensi perhutanan sosial di Blora sangat besar. Sekitar 60 persen wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan dan banyak masyarakat tinggal di sekitar kawasan tersebut.
“Potensi ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya tanpa mengabaikan kelestarian hutan,” ujarnya.
Sri juga mengingatkan agar pengembangan usaha di kawasan hutan tetap dilakukan dengan berkoordinasi dan memperoleh izin dari pemangku kawasan.
Petani Didorong Tanam Buah
Penyuluh Pendamping KTH Masjid Baitur Mulyo, Agung Wibowo, mengatakan hasil pertanian anggota KTH saat ini masih didominasi jagung. Namun, petani mulai didorong menanam tanaman buah sebagai investasi jangka panjang.
“Ketika petani sudah beberapa tahun menanam jagung, nantinya tanaman buah dapat mulai dipanen sehingga nilai ekonominya akan lebih besar,” jelasnya.
Agung juga mengingatkan petani tidak membakar limbah batang jagung setelah panen karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman buah.
KTH Masjid Baitur Mulyo sendiri mendapat izin mengelola kawasan perhutanan sosial seluas 759 hektare dengan masa izin hingga 35 tahun. Pengelolaan tersebut tetap akan dievaluasi secara berkala.
“Tahun ini kami mengusulkan penanaman tanaman buah seluas 50 hektare. Saya berharap seluruh anggota dapat merawatnya dengan baik dan tetap mematuhi seluruh aturan kelembagaan KTH Masjid Baitur Mulyo,” katanya.
Kegiatan RAT tersebut mengusung tema “Dari Hutan Perhutanan Sosial untuk Kedaulatan Pangan”. Kegiatan dihadiri sejumlah pihak, antara lain perwakilan Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah I Jawa Tengah, KPH Cepu, Pemkab Blora, Forkopimcam Sambong, kepala desa, serta para KTH dari Blora dan daerah sekitar.**Team Website.
Ketua KTH Masjid Baitur Mulyo, Sutrisno, berharap dukungan pemerintah dan berbagai pihak dapat terus diperkuat sehingga kawasan hutan tetap lestari sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.